Cari dan Temu

Kolom Sponsor

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

Sekolah Gratis bagi Si Kecil


Kompressmedia - Solo. Yayasan Pendidikan Eben Haezer Salatiga menawarkan beasiswa dengan menyediakan sekolah gratis yang diselenggarakan selama satu bulan bagi tingkat Taman Kanak-kanak (TK).
Ditemui di yayasan (24/10) Niar selaku Tata Usaha SD Eben Haezer bersangkutan mengatakan bahwa pengadaaan beasiswa tersebut bertujuan agar para anak-anak semakin menarik untuk bersekolah TK dan semakin memiliki keberanian mental. Anak-anak juga tidak akan merasa asing dengan sekolahnya jika mereka sudah terbiasa memungkinkan mereka akan merasa nyaman.
“Kenyamanan itulah yang kami kira akan mampu membuat mereka mau melanjutkan sekolah di sini,” ungkapnya.
  Dihimpun dari keterangan beliau, sekolah gratis akan diselenggarakan mulai 19 November hingga 15 Desember 2012. Jika mereka berminat dengan sekolah tersebut, pasti mereka akan langsung mendaftar sebagai siswa tetap. Tapi, ada juga yang hanya sekedar ikut sebagai siswa sekolah gratis.
“Program ini sangat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar bahkan hingga luar kota sekalipun, sudah empat tahun belakangan ini kami menyelenggarakan ajang sekolah gratis tingkat TK ini” tambah  ibu Niar.  Menurutnya walaupun hanya satu bulan pelaksanaan tetapi ini sangat menunjang dan mendukung keberhasilan dan bahkan menjadikan ajang promosi yang dibilang sangat bermanfaat. (Kompressmedia_Lusi)

Film Dokumenter Pererat Mahasiswa


Selasa malam (23/10) sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Pelatihan Pers Mahasiswa KOPERTIS VI 2012 membuat film documenter yang dilakukan di Loby Hotel Le Bringin. Pembuatan film tersebut dilakukan oleh duabelas peserta pelatihan.

“Sebenarnya acara semalam itu untuk memberikan apresiasi serta untuk memberikan ingatan kita kepada teman-teman bahwa kita pernah bersama dalam satu rumah yaitu dewan pers” ujar Abdul Wahid salah satu pesrta dan penggagas pembuatan film. Di menambahkan bahwa pembuatan film tersebut juga akan mempererat pertemanan yang terjalin diantara peserta pelatihan.

Film yang diperankan oleh oleh Irawan, mahasiswa Universitas Setia Budi (USB) Solo ini dibuat selama semalam dengan menceritakan berbagai romansa diantara para peserta yang menghadiri pelatihan . Singkat cerita, peserta sangat merasa arti sebuah persahabatan itu perlu. (Kompressmedia_Arnan)

Pelatihan Pers Kopertis VI


Kompressmedia- Senin (22/10) KOPERTIS wilayah VI menyelenggarakan Pelatihan Pers Kampus tahun 2012. Acara yang diikuti oleh 56 perguruan tinggi swasta di seluruh jawa tengah tersebut diselenggarakan selama empat hari, dimulai dari hari Senin hingga kamis siang.  

“Tujuan dari diselenggarakannya Pelatihan Pers Kampus ialah supaya menginformasikan aplikasi di perguruan tinggi swasta masing-masing dan bisa memberikan ilmu yang didapat dari pelatihan dan dapat mengimplementasikan ilmunya ke kampus masing-masing” ujar Abu Khoir selaku panitia penyelenggara acara.

Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai sarana kegiatan namun penyelenggaraan ini akan berkesinambungan setiap tahunnya. Hal itu dikarenakan memang sudah disediakan anggaran khusus untuk itu.

 Sedangkan menurut Robertus Arnold S, Presiden BEM Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Farming Semarang mengatakan bahwa acara tersebut sangat menguntungkan bagi para mahasiswa. Dia berujar bahwa dia dan teman-temannya mendapatkan banyak ilmu tentang pers di acara tersebut.
Robertus juga memaparkan bahwa antusiasme peserta ternyata sangat tinggi. Menurutnya, hal itu dibuktikan dengan banyaknya peserta yang bertanya pada setiap session yang diadakan. “Sejauh ini selalu saja ada lima hingga tujuh penanya pada setiap session-nya”  jelasnya.

Senada dengan Robertus, Arnan Setyo, perwaklan dari STIKES Aisyiyah Solo juga memaparkan bahwa kesempatan yang diberikan KOPERTIS VI ini juga menjadi tolak ukur pemikiran seorang mahasiswa untuk memulai suatu babak baru kehidupan. Disamping berbagi ilmu, kami juga dapat menjalin persahabat untuk memperkuat komunikasi sehingga terjalinnya hubungan mahasiswa yang baik dan harmonis, khususnya di wilayah Jawa Tengah. (Kompressmedia_Arnan)

Lengkuas Penyambung Hidup



“Gangsal ewu nggih mboten cekap mba.” Tutur beliau sambil duduk melepas rasa lelahnya. Nominal yang begitu kecil sangat berarti bagi beliau. Lima ribu rupiah bukan angka yang dapat mencukupi kebutuhan hidup wanita ini. Empat anaknya telah hidup dengan keluarganya masing-masing.

Dari desa Karang Joho, Bawen, Semarang. Setiap pagi Jariyah (70) menjual berbagai jenis rempah-rempah yang ia ambil dari lahannya sendiri. Salah satunya lengkuas. Setiap harinya perempuan berkepala tujuh mampu menggendong paling banyak 32 kilogram rempah-rempah. Sedangkan untuk jumlah standar setiap harinya ia hanya mampu menjual sepuluh Kg.

32 Kg bukan kuantitas yang kecil bagi wanita seumuran beliau. Lengkuas yang ia jual diberi harga seribu lima ratus rupiah per Kg-nya. “Jadi satu hari jika saya menjual 10 Kg saya mendapatkan penghasilan lima belas ribu rupiah mbak!” ujarnya. 

Dia berujar bahwa hasil dari penjualan lengkuas tersebut ia hanya mendapatkan penghasilan kotor sebesar limabelas ribu rupiah. Dengan rincian sepuluh ribu rupiah digunakan untuk transportasi sehingga dia hanya mendapatkan penghasilan sebesar limaribu rupiah setiap harinya.

Didapat dari keterangannya, untuk menutupi kekurangan atas hasil yang ia peroleh ia menambahkan sayur-sayuran berupa bayam yang ia beli dari petani dengan harga duaribu rupiah per ikatnya yang kemudian ia jual dengan harga tiga ribu rupiah. Sehingga ia mendapatkan keuntungan sebesar seribu rupiah untuk kebutuhan primernya.

Pekerjaan itu telah dilakukan oleh Jariyah bertahun-tahun lamanya. Semangat menjalani hidupnya yang hanya berteman dengan sepi. Karena suaminya sudah tiada. Dan ia hidup bersama dengan tetangga yang paham akan arti tolong menolong.


Jamu Masih Jadi Tradisi

Kompressmedia, Salatiga- berawal dari hobi di masa mudanya Ngatini (68) menekuni racikan jamu asli jawa, berawal dari belajar dengan temanya sampai akhirnya dia mampu memproduksi dan menjual sendiri sehingga dapat membantu perekonomian keluarga besarnya. Selama 32 tahun Ngatini menggeluti pekerjaannya, dia harus bersaing dengan beberapa penjual jamu lainnya. 

“Memang mbak, sekarang banyak penjual jamu tradisional yang menambahkan bahan-bahan kimia dalam racikanya tetapi saya yakin pada pendirian saya untuk tetap menjaga keaslian jamu yang peracikan saya” ungkapnya.

Ketika ditanya tentang jamu apa saja yang dia jual, Ngatini memaparkan tentang berbagai macam jamu yang dia bawa. Seperti jamu Sirih yang menurutnya berkhasiat membuat badan kaum muda berbau wangi. Lalu ada juga jamu Brotowali jamu yang terkenal pahit yang justru berkhasiat meredakan perut kembung yang dalam istilah jawa biasa di kenal dengan istilah senep.
 
© Copyright 2035 Kompress Media
Blog by Damar Nurani