Cari dan Temu

Kolom Sponsor

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

Puisi


Salam Perpisahan untuk kawan
oleh: N. Laela 

Sehari kita lalui
Terasa sunyi bagi kehidupan ini
Tak jarang aku mengharapkan momen seperti ini
Namun, takdir telah berganti
Sahabat,
Kau adalah penggugah jiwa
Pembakar asa menggapai cita
Kawan,
Aku mempunyai satu permintaan
Bukan permata nan bersinar
Hanya sebuah ucapan penuh kenangan
Ucapan “Terima kasih dan selamat tinggal”
Jangan berakhir,
Itu sebuah harapan tunggal
Perpisahan bukan akhir segalanya
Karena perpisahan awal kehidupan kita
Kehidupan yang nyata penuh tantangan
Aku hanya berdo’a
“Semoga kita dapat berjumpa dalam kehidupan yang indah di masa depan”

Puisi


Pelangi di Bumi Salatiga
oleh: Nur Laelasari
 
Mentari menatap bumi Salatiga penuh bangga
Pemuda bangsa turun dengan almamater bermacam warna
Tersenyum menatap masa depan
Melangkah penuh keyakinan dengan segenap keberanian
Menantang jalan penuh kerikil tajam
Menegakan panji keadilan
Meluruskan janji pemimpin bangsa
Bukan jas safari penuh dusta
Di bumi Salatiga,
Penerus bangsa berpihak pada rakyat jelata
Bertumpu tiang kebijaksanaan
Bukan, amplop tebal penuh kebohongan
Melebur kedalam sebuah ikatan
Ikatan warna alam penuh kebersamaan
Menciptakan pelangi indah dan mengagumkan
Menghias pertiwi dengan prestasi
Tak hanya mencaci penuh benci

Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen

Kupu - Kupu Etalase
oleh : Septiana Tri


Jam telah menunjukan pukul dua malam, longlongan anjing sayup terdengar dari kejauhan, semakin sering. Jalanan semakin lenggang, hanya angkutan umum yang sesekali melaluinya. Gerimis telah menyapu orang-orang untuk beraktifitas di malam itu, karena udara telalu dingin walau hanya untuk keluar rumah.

Sekar masih tertunduk dibawah naungan atap halte tua disuatu jalan kota, dengan membawa kopor besar, dia menerawang. Dia melamun dan limbung. Sulit untuk dihapuskan dari ingatannya apa yang telah terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu, Ketika ayahnya ingin sekali menikahkan dirinya dengan Roy, anak teman ayahnya. Berkali-kali ayah membujuknya, berkali-kali pula Roy datang memohon kepadanya, namun Sekar tak pernah mau menerima pinangannya. 

Setelah ayahnya mulai putus asa, ahirnya pertengkaran diantara mereka tak terelakan. Sekar berkata bahwa dia tak pernah mencintai Roy dan dia lebih menikmati hidupnya dengan mencintai Arum, sahabat kecilnya. Mendengar alasan itu, seluruh keluarga tak dapat menerima keputusan yang diambilnya. Ayahnya pun semakin kecewa dengannya, dan terlanjur malu dengan keluarga Roy.
“Pergi saja kau jika seperti ini, darimana kau mendapatkan ajaran-ajaran sesat itu hingga perilakumu melenceng dari agama?” ungkap ayahnya, murka.
“Sekar, keluarga kita adalah keluarga yang baik, dan ibu tak pernah mengajarimu hal seperti itu,” ujar ibunya berurai air mata.

Semua perkataan yang didengar Sekar telah melukai hatinya. Namun dia putuskan untuk diam dalam menghadapinya. Malam itu dia meninggalkan rumah dengan hanya berbekal beberapa baju dan uang beberapa puluh ribu yang dibawanya.

Keputusan besar Sekar ambil untuk hidupnya, dia melepaskan jilbab yang telah menemaninya hampir separuh hidupnya itu. Dia mengganti baju yang selayaknya dia pakai saat berjilbab dengan setelan jeans dan jaket. Sekar berlalu begitu saja, tertelan oleh kesunyian malam.

Malam itu Sekar menggelandang. Dia tak mungkin mengadu pada Arum, jarak yang cukup jauh antara Surabaya dan Jogja memang terlalu jauh. Keragu-raguannya akan sikap Arum jika mengetahui bahwa Sekar menyukainya juga menjadi alasan untuk tidak mengabarinya. Tidur di emperan toko ahirnya dia lakukan dengan berbekal kardus bekas yang dia dapat dari seseorang ibu tua yang merasa iba dengannya.
***
 
© Copyright 2035 Kompress Media
Blog by Damar Nurani